Selasa, 03 Oktober 2017

ISTIQOMAH HARUS NAIK LEVEL WAJIB

Sebagai orang islam kita memiliki kewajiban yang utama yaitu ibadah. Ibadah shalat, puasa, dzikir doa, mulai dari ibadah wajib hingga ibadah sunah, mulai dari ibadah yang sepele seperti tersenyum hingga ibadah yang butuh kekusyuan seperti shalat, dan haji yang rata-rata perlu pengorbanan yang lebih untuk bisa mewujudkannya. Namun perlu digaris bawahi juga semua ibadah yang kita lakukan harus konsisten hingga mautlah pemutusnya.
Konsisten ini sangat rawan terhadap godaan setan yang tidak lelah menggoda manusia, tahap konsisten ini memang sangat berat karena lebih mudah memperoleh nilai atau jabatan tunggi daripada mempertahankannya. Begitu pula ibadah, mudah kita saat luang membaca Quran 1 juz, tapi apa bisa istiqomah? boro-boro satu juz kalau sedang dikejar dedline 3  lembar saja sudah alhamdulillah. Istiqomah harus juga karena kita tidak tahu kapan ajal menjemput, iya kalau kita meninggal saat dalam kondisi iman terbaik. Bayangkan kalau kita dipanggil saat kondisi iman kita kacau dan berantakan, padahal hari sebelumnya atau bahkan jam sebelumnya iman kita masih terjaga dengan baik, namun apa daya kalau Allah sudah berkehendak, maka 'kun fayakun', oleh karena itulah pentingnya menjaga istiqomah itu.
Nah..yang ngga kalah penting adalah... kapan naik level? Bagaimana kita bisa mendapatkan surga firdaus kalau ibadah kita standart atau malah dibawah standart. Surga firdaus itu selevel nabi rosul dan sahabat yang mulia, kita yang ngajinya sehari satu juz sudah merasa luar biasa, padahal rasul saja semalam bisa khatam quran. Bukan meceramahi...hanya saling mengingatkan toh belum tentu kondisi penulis sekarang dalam keadaan iman yang baik baik saja. Pada intinya istiqomah itu haruuuss banget karena kita ngga tahu kapan ajal menjemput dan naik level itu wajib karena itulah yang menjadi tujuan kita di akhirat apakah standart ibadah kita sudah cukup untuk memasuki surga..atau harus mampir lebih lama dulu ke neraka?

[1]Allah SWT berfirman
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal,"
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 2)

[2]Dari Abu Musa Al-Asy`arit berkata, Rasulullah bersabda, " Perumpamaan orang mukmin yang membaca al-Quran seperti buah Utrujah (buah jeruk yang manis), yaitu mempunyai bau yang harum dan rasa yang enak. Perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca al-Quran seperti buah tamr (kurma), yaitu tidak berbau meskipun rasanya enak. Perumpaan orang munafik yang membaca al-Quran seperti buah raihanah (daun kemangi), yaitu baunya harum namun rasanya pahit. Perumpamaan orang munafik yang tidak membaca al-Quran seperti buah hanzolah (buah sejenis labu), yaitu baunya tidak wangi rasanya pun tidak enak (HR Bukhari dan Muslim)

[3]Dari `Aisyah Radhiyallahu `Anha berkata, Rasulullah bersabda, "Orang yang membaca Al-Qur`an dan ia mahir dalam membacanya maka ia akan dikumpulkan bersama para Malaikat yang mulia lagi berbakti. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur`an dan ia masih terbata-bata dan merasa berat (belum fasih) dalam membacanya, maka ia akan mendapat dua ganjaran." (HR Bukhari Muslim)

[4]Dari Abdullah bin Mas`ud t berkata bahwaRasulullahSAW, "Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur`an) maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan akan dilipat gandakan dengan sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan "Alif lam mim" itu satu huruf, tetapi "Alif" itu satu huruf, "Lam" itu satu huruf dan "Mim" itu satu huruf." (HR At Tirmidzi dan berkata, "Hadits hasan shahih).